Tentang Catur

- May 15, 2016 - No comments -

Catur tidaklah serumit kehidupan, tetapi catur bukanlah sekedar permainan. Saya kurang tahu persis apa yang membuat saya tertarik terhadap olahraga (beberapa orang mengatakan seni) asah otak ini. Saya tidak terlalu mengerti catur. Saya baru tahu notasi catur setelah berumur 23 tahun. Usia yang sangat amat terlambat untuk memahami catur. Sergei Karjakin (penantang juara dunia Magnus Carlsen pada November mendatang di New York untuk merebut juara dunia) mendapatkan gelar GM pada usia 12 tahun 10 bulan. Tetapi bukan itu yang mau saya tuliskan di sini.

Setelah saya membaca beberapa artikel maupun buku catur ada pelajaran-pelajaran penting yang saya ketahui dari para pecatur tangguh termasuk beberapa di antaranya pernah menjadi juara dunia. Ketika saya membaca tentang catur, saya lebih tertarik kepada cerita di balik permainan over the board daripada permainan itu sendiri. Menganalisa berbagai varian dan subvarian bisa bikin pening kepala. Dari pengalaman-pengalaman para GM yang saya baca ada beberapa persamaan di antara mereka.

Garry Kasparov via kasparov.com
Garry Kasparov via kasparov.com

Ternyata rahasia sukses itu di mana-mana sama. Butuh kerja keras, displin, kreatif, belajar terus-menerus, pantang menyerah dan masih banyak lagi. Ketika mendapatkan literasi catur tidak segampang sekarang, mantan juara dunia ke-13 Garry Kasparov di awal-awal terjun ke dunia catur harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan buku catur. Dia terus mengasah keahliannya. Mellihat kegigihannya, Botvinnik, juga mantan juara dunia, memprediksi bahwa suatu saat Kasparov akan menjadi juara dunia.

Dan ramalannya benar. Kasparov memang fenomenal. Dia tidak hanya tertarik kepada catur saja. Dia juga mempelajari filsafat, politik dan hal lain di luar catur. Setelah pensiun dia terlibat dalam politik. Dia paling sering mengkritik pemerintahan Putin. Salah satu yang sangat saya kagumi dari Kasparov ini adalah produktivitasnya dalam menulis. Dia menulis buku, artikel di New York Times dan beberapa kali diundang di acara talk show televisi.
Bagi sebagian orang, catur adalah permainan 64 kotak yang sangat membosankan. Tetapi bagi sebagian orang, catur adalah permainan imajinasi yang luar biasa. Bagi sebagian orang, catur adalah lambang kemalasan. Tahan berjam-jam main catur hingga melupakan pekerjaan (ini bagi mereka non profesional player). Kembali ke persamaan-persamaan para GM yang saya tuliskan di awal.

Saya melihat para GM kuat rata-rata menguasai beberapa bahasa di luar bahasa ibu mereka. Mereka rata-rata fluent in English. GM Judit Polgar (pecatur wanita elo tertinggi sebelum dipecahkan Hou Yifan) menguasai empat bahasa. Tentu saja untuk menguasai bahasa ini dibutuhkan ketekunan. Seperti halnya Kasparov, Polgar juga menulis buku, salah satunya How I Beat Fischer Record. Memang rata-rata pemain top menulis beberapa buku. Pengecualian adalah Boris Spassky, juara dunia kesepuluh.

Spassky vs Fischer (1972)
Spassky vs Fischer via chessrex.com

Bagi negara-negara kuat dalam catur, catur bukanlah sekedar catur. Catur bisa menjadi alat politik. Para penggemar catur tentunya tahu pertandingan kejuaraan dunia antara Spassky vs Fischer (1972) yang tersohor itu tidak terlepas dari hiruk pikuk politik. Para penguasa Rusia mengerahkan segala upaya agar mahkota juara dunia tetap milik Russia. Dan Spassky gagal mempertahankannya. Dan seperti itu ada kaitannya mengapa Spassky memilih menjadi warga negara Perancis.

Ketika pertandingan kejuaraan dunia antara Karpov vs Korchnoi dilangsungkan, Karpov (tentu saja atas desakan penguasa Rusia) protes karena di sebelah Korchnoi dipasang bendara Swiss. Korchnoi dianggap membelot karena beralih kewarganegaraan dari Russia menjadi Swiss.

Bagi saya pribadi, catur hanyalah kesenangan belaka. Saya amat menyukai (kalau tidak bisa dikatakan mencintai) permainan ini. Mengapa? Catur itu indah. Catur itu kreatif. Memberikan pelajaran hidup. Tentang pentingnya perencanaan, kalkulasi, kecermatan, dan yang terpenting penguasaan diri. Catur juga mengajarkan sportivitas. Selalu berjabat tangan sebelum dan setelah selesai (walaupun pernah ada kasus menolak jabatan tangan). Sebenarnya saya ingin menulis lebih panjang, tapi susah mengetik di HP butut ini. Sebagai penutup saya kutip “This is all chess about. Someday you give lesson to your opponent, the other day he\she gives one.¬†Gens Una Sumus

Kirim Komentar ya

Loading Facebook Comments ...

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Dilarang copy tanpa izin!!!!